NGANJUK – Suasana Ahad pagi di Halaman SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk dipenuhi semangat menuntut ilmu dalam Pengajian Ahad Pagi “Fajar Mubarok” yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Nganjuk bekerja sama dengan Lazismu Nganjuk, Ahad (12/7/2026). Mengangkat tema “Awas Brain Rot: Merebut Kembali Fokus dan Jiwa Kita”, kegiatan ini menghadirkan Ust. Dr. Saiful Amien, Dosen PPUT Universitas Muhammadiyah Malang.
Dalam tausiyahnya, Ust. Saiful Amien mengajak jamaah untuk lebih bijak menghadapi derasnya arus digital. Menurutnya, teknologi sejatinya adalah alat yang diciptakan untuk membantu manusia menyelesaikan persoalan kehidupan, bukan justru menguasai manusia. Karena itu, umat Islam harus menjadi pengendali teknologi, bukan menjadi budak algoritma telepon genggam.
“Kalau HP itu alat, maka kita adalah majikannya. Jangan sampai terbalik, manusia justru dikendalikan oleh algoritma,” pesannya.
Beliau juga mengingatkan bahaya fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang kini menjangkiti banyak kalangan, khususnya generasi muda. Kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar dapat mengikis fokus, produktivitas, hingga menghadirkan kekosongan batin.
Dalam kajiannya, beliau menjelaskan bahwa hawa nafsu merupakan potensi yang dapat mengantarkan manusia kepada kebaikan maupun keburukan sehingga harus dikendalikan dengan iman. Mengutip Imam Al-Ghazali, beliau menjelaskan tentang مَدَاخِلُ الشَّيَاطِينِ (madākhilusy-syayāṭīn), yaitu pintu-pintu masuk setan ke dalam diri manusia melalui berbagai celah kelalaian, termasuk makanan yang tidak halal dan perilaku yang menjauhkan diri dari Allah.
Sebagai penguat, beliau membacakan firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan untuk (isi) neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179).
Beliau juga mengutip pesan Buya Hamka yang menggugah, “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Pesan tersebut mengingatkan bahwa kehidupan seorang mukmin harus dipenuhi tujuan mulia, bukan sekadar menjalani rutinitas tanpa arah.
Selanjutnya, mengutip tafsir Sayyid Qutb terhadap pembukaan Surah Al-Baqarah, beliau menegaskan bahwa puncak hidayah Al-Qur’an adalah bagi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2).
Di penghujung pengajian, beliau mengingatkan hadis Rasulullah ﷺ:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (merugi) karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
Hadis tersebut menjadi penutup yang mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan nikmat sehat dan waktu luang dengan sebaik-baiknya untuk beribadah, menuntut ilmu, bekerja secara produktif, serta memperbanyak amal saleh. Di tengah tantangan era digital, menjaga fokus, mengendalikan hawa nafsu, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup merupakan kunci agar tidak terjerumus dalam kelalaian dan tetap meraih keberkahan hidup.
Acara dilanjutkan oleh tanya jawab dari 2 jamaah kepada narasumber, dan penyerahan Sepeda dari Lazismu Nganjuk untk LKSA Panti Asuhan ‘Aisyiyah Kabupaten Nganjuk


