Suasana pagi di halaman SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk tampak hangat dan penuh kekeluargaan, Ahad pagi, 10 Mei 2026. Sejak pukul 06.00 WIB, para pimpinan, warga, dan simpatisan Muhammadiyah Nganjuk mulai memadati lokasi untuk mengikuti Pengajian Fajar Mubarok bertema “Spiritualitas Ibadah Qurban”.
Pengajian menghadirkan Dr. H. Piet Hizbullah Khaidir sebagai pembicara utama. Dengan gaya penyampaian yang ringan namun mendalam, beliau mengajak jamaah memahami makna qurban tidak hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memperkuat kepedulian sosial.
Dalam tausiyahnya, Dr. Piet menjelaskan perbedaan antara udhiyah dan nahar. Udhiyah dimaknai sebagai hewan qurban yang disembelih sebagai bentuk ibadah pada Hari Raya Iduladha dan hari tasyrik, sedangkan nahar adalah proses penyembelihannya.
Beliau menjelaskan bahwa istilah Yaumun Nahr berarti hari penyembelihan, yakni 10 Zulhijah. Adapun waktu penyembelihan qurban dimulai setelah salat Iduladha hingga hari tasyrik tanggal 13 Zulhijah sebelum waktu Ashar menurut pendapat jumhur ulama.
“Qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Yang utama adalah nilai ketakwaan dan keikhlasan yang hadir di dalam hati,” tuturnya di hadapan jamaah.
Beliau kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
Artinya:
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa esensi qurban bukan terletak pada banyaknya daging ataupun besarnya hewan yang disembelih, melainkan pada kualitas iman, ketulusan, dan pengorbanan seorang hamba.
Dalam kesempatan itu, Dr. Piet juga menjelaskanb Udhiyah tidak dapat diganti dengan unggas meskipun nilainya sama, karena syariat telah menentukan jenis hewan tertentu.Hewan qurban yang sah meliputi kambing, sapi, atau unta bahkan kuda jika terbiasa memakan sayangnya beliau menjelaskan tidak bisa memakan yang seperti itu.
Suasana pengajian semakin khidmat ketika pembahasan berlanjut pada konsep rezeki dalam Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa rezeki memiliki berbagai bentuk, mulai dari nikmat kesehatan, ketenangan hati, istiqamah dalam kebaikan, hingga potensi dan bakat yang Allah anugerahkan kepada manusia.
Beliau menguraikan empat istilah rezeki dalam Al-Qur’an, yaitu nikmat, rizki, ala’, dan wahban. Nikmat mencakup segala karunia yang tampak maupun tidak tampak. Rizki dibedakan menjadi rizki haqiqi yang membawa kebaikan serta rizki ghairu haqiqi yang dapat menjadi istidraj apabila menjauhkan manusia dari Allah. Sementara ala’ berkaitan dengan nikmat kedekatan kepada Al-Qur’an dan keistiqamahan dalam berbuat baik, sedangkan wahban adalah karunia berupa bakat dan potensi diri.
Jamaah tampak antusias mengikuti pengajian hingga selesai. Banyak peserta terlihat memperhatikan poin penting yang disampaikan. Pengajian pagi itu tidak hanya menjadi ruang menambah ilmu, tetapi juga momentum mempererat ukhuwah dan menumbuhkan semangat berbagi menjelang Iduladha.
Melalui kegiatan ini, Muhammadiyah Nganjuk berharap nilai-nilai qurban dapat terus hidup dalam keseharian masyarakat: rela berbagi, peduli sesama, serta semakin dekat kepada Allah SWT.


