Ahad pagi yang cerah, 12 April 2026, suasana religius menyelimuti pelaksanaan Pengajian Ahad Pagi Fajar Mubarok yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Nganjuk. anak asuh LKSA Panti Asuhan ‘Aisyiyah Kabupaten Nganjuk dan Jamaah lain tampak hadir dengan penuh antusias, memadati lokasi kegiatan yang berlangsung khidmat sekaligus hangat dalam kebersamaan.
Acara diawali dengan sambutan Ketua PDM Nganjuk, Bapak Juwari, S.Pd., yang menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat cuaca yang cerah serta kesempatan untuk kembali berkumpul dalam majelis ilmu. Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menyampaikan ucapan taqabbalallahu minna wa minkum kepada seluruh jamaah, sebagai bentuk doa dan harapan atas diterimanya amal ibadah selama bulan Ramadhan.
Lebih lanjut, beliau memaparkan agenda pasca pengajian, di antaranya program SATUMU sebagai sistem pendataan warga Muhammadiyah, serta berbagai program strategis yang tengah dijalankan oleh Muhammadiyah Nganjuk dalam rangka penguatan organisasi dan pelayanan umat.
Memasuki acara inti, refleksi pasca Ramadhan disampaikan oleh Prof. Sukadiono, Ketua PWM Jawa Timur. Dalam tausiyahnya, beliau mengapresiasi perkembangan jumlah jamaah yang terus meningkat sebagai indikator positif tumbuhnya semangat beragama di tengah masyarakat.
Sebagai pengantar refleksi, beliau menegaskan bahwa kesungguhan dalam mengurus Muhammadiyah sebagai wasilah amal shalih akan berbanding lurus dengan pertolongan Allah kepada hamba-Nya. Refleksi pasca Ramadhan, menurut beliau, bukan sekadar evaluasi, tetapi juga komitmen untuk menjaga konsistensi amalan yang telah dibangun selama bulan suci.
Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Al-Isra ayat 79:
وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
“Dan pada sebagian malam, dirikanlah salat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kemuliaan derajat tidak hanya ditentukan oleh posisi, tetapi oleh kemampuan menjaga dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan secara istiqamah. Tidak sedikit orang yang memiliki kedudukan tinggi, namun gagal meraih maqaman mahmuda karena tidak mampu menjaga amanahnya.
Sebagai penguat, beliau juga mengajak jamaah untuk senantiasa memanjatkan doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an:
وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا
“Wahai Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang benar, dan keluarkanlah aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.”
Dalam penjelasannya, beliau menekankan pentingnya shalat malam sebagai kebiasaan orang-orang saleh terdahulu, yang tidak hanya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga membawa dampak pada kesehatan dan ketenangan jiwa.
Tak kalah penting, beliau mengkritisi pola membaca Al-Qur’an yang hanya berorientasi pada target kuantitas, tanpa diiringi pemahaman makna. Padahal, menurut beliau, Al-Qur’an mengandung nilai-nilai kehidupan yang sangat relevan, termasuk dalam konteks mitigasi bencana, sebagaimana tergambar dalam kisah Nabi Nuh yang diperintahkan membuat kapal sebelum datangnya banjir.
Sebagai penutup, beliau mengutip pesan agar umat Islam membaca Al-Qur’an dengan pemahaman dan tafsirnya, sehingga mampu menghadirkan nilai dan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Uraian masih berlanjut dalam rangka refleksi pasca Ramadhan.
Pengajian Ahad pagi ini pun menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat keberlanjutan ibadah, sekaligus meneguhkan komitmen dalam berorganisasi dan beramal demi kemaslahatan umat.



